Sistem
pendidikan nasional yang tidak
selaras atau sinkron dengan
dunia kerja menyebabkan
banyaknya lulusan sekolah
menengah atas dan perguruan
tinggi yang menjadi
penganggur terbuka. Masalah
pengangguran tidak akan
pernah selesai apabila lulusan
terdidik hanya menjadi
pegawai, karyawan, atau buruh
di suatu perusahaan.
Demikian dikemukakan Deputi
Menteri Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional Bidang
SDM dan Kebudayaan Bappenas
Nina Sardjunani dalam seminar
Daya Tawar Pemuda dalam
Dunia Kerja: Menghubungkan
Pendidikan, Ketenagakerjaan,
dan Kewirausahaan, Rabu
(20/1/2010) di Jakarta.
Berdasarkan hasil survei
angkatan kerja nasional atau
Sakernas 2009, mayoritas
lulusan perguruan tinggi (74
persen) dan lulusan SMA (64
persen) menjadi pegawai,
karyawan, atau buruh. Hasil ini
menunjukkan lulusan terdidik
— terutama lulusan perguruan
tinggi—rela menganggur
hanya untuk menunggu
kesempatan menjadi pegawai
atau karyawan apa pun, tidak
mau mencoba terjun ke dunia
usaha.
Pendiri Universitas Ciputra
Entrepreneurship Center
(UCEC), Ciputra, mengatakan,
jika ingin mempercepat
pertumbuhan ekonomi,
idealnya Indonesia
membutuhkan setidaknya 4,4
juta pengusaha. Untuk
mencapai jumlah ideal itu, dari
jumlah sekarang sekitar
400.000 pengusaha, kuncinya
ada pada dunia pendidikan,
terutama kalangan pendidik
(guru atau dosen).
Menurut Ciputra, sistem
pendidikan Indonesia saat ini
tidak sinkron dengan dunia
kerja karena sekolah hanya
mencetak para pencari kerja,
bukan lulusan yang mampu
menciptakan lapangan
pekerjaan.
Secara terpisah, Mira
Kusumarini, Ashoka Indonesia
Representative, mengatakan,
pendidikan kita belum mampu
membawa ke arah
berkembangnya budaya
kebebasan berpikir dan
berkreasi dalam diri tiap anak.
” Anak-anak yang berpikir
berbeda justru diprotes dan
tidak didukung oleh guru,
teman-teman, orangtua, serta
masyarakat, ” ujar Mira
Kusumarini, seusai acara
Ashoka Young Changemakers
Award 2009 atau pembaru
muda kepada 20 anak muda
berusia 10-25 tahun di Jakarta,
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment